Minggu, 13 Desember 2015

Hubungan anak dengan Orang Tua pada Generasi Y dan Z

Tabel diatas merupakan hasil studi kualitatif di Yogya dan Solo yang saya lakukan untuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada tahun 2013. Studi tersebut bertujuan melihat relasi antara orang tua dan anak di dua kota di Jawa Tengah dalam rangka penyusunan sebuah sosialisasi dan kampanye anti korupsi yang lebih tepat sasaran untuk generasi muda serta lingkup keluarga.
Hasil yang mengemuka cukup mengejutkan, ini karena saya dan tim peneliti dari KPK menemukan pola menarik tentang bagaimana anak pada pendidikan dasar sudah mulai memiliki jarak fisik dan psikologis dengan orang tua. Kami dapati bahwa pada usia playgroup dan taman kanak-kanak, para partisipan masih memiliki ikatan dan kedekatan dengan kedua orang tua. Quality time antara orang tua dan anak masih sangat terasa. Mereka mengemukakan bahwa mereka kerap bermain atau menghabiskan waktu dengan sang ayah dan ibu. Akan tetapi di usia kisaran 7 hingga 10 tahun, anak-anak mengaku sudah sangat jarang berinteraksi dengan orang tua. Kedua orang tua sudah berada pada status bekerja, anakpun dititipkan kepada 'mba' di rumah, babysitter ataupun kakek-nenek. Setelah digali lebih dalam, saya dapati bahwa alasan dibalik proses pembiaran atau 'laissez faire' ini bersifat ekonomi, zaman semakin menekan sehingga mendorong Ibu juga untuk turut mengambil peran sebagai pencari nafkah. Selain itu orang tua merasa bahwa anak sudah memiliki kematangan untuk ditinggal di rumah.
Hal ini bagi saya cukup mengkhawatirkan, apalagi bila pola yang sama terjadi pada satu generasi. Maka, kita akan dapati satu generasi yang kepribadiannya terbentuk bukan dari orang tua, akan tetapi lewat media televisi dan internet sebagai pengganti interaksi dengan orang tua. Pada proses perkembangan psikologis anak, kehadiran ayah kerap berperan sebagai sumber moral judgment dan pembentuk values anak. Ayah merupakan role model bagi anak dari sisi kognitif dan cara berpikir, sementara Ibu kerap berperan sebagai naungan emosional. Ibu merupakan tempat mengadu anak dan penghibur anak di kala sedih serta down. Nah, kedua peran tersebut, baik kognitif maupun emosional tidak bisa digantikan dengan device digital. Apabila anak tumbuh besar tanpa bimbingan Ibu dan Ayah secara berkualitas maka kita akan dapati sebuah remaja atau anak muda yang telah matang secara fisik namun tidak dewasa secara kepribadian. Pada usia yang telah matang hal tersebut akan banyak menimbulkan ketidak seimbangan psikis juga emosional bagi anak, karena ia belum memiliki kepribadian yang stabil dan kuat.
Lantas, coba kita bayangkan apabila hal tersebut terjadi pada satu generasi! kita akan mendapatkan sebuah masalah besar. Gejolak sosialpun pasti akan terjadi dengan luas dan pesat. Ketika hal itu sudah terlanjur terjadi, sudah telat untuk menunjuk jari siapa yang salah...


Dr Muhammad Faisal M.Si
Peneliti Perilaku dan Budaya Anak Muda
Pendiri Youth Laboratory Indonesia

Kata Kunci: pemasaran , tren anak muda , riset anak muda , riset pemasaran , strategi pemasaran anak muda , jasa riset , jasa riset pemasaran , biro riset pemasaran , konsultan pemasaran , youth culture asia , youth culture report , youth data , youth indonesia , youth insights , youth marketing indonesia , youth marketing reports , youth research, youthlab , indonesian youth , data anak muda , penelitian tentang anak muda , hasil survei tentang anak muda , jasa penelitian , anak muda indonesia , perilaku anak muda , youth behavior , orang tua, studi anak muda

Selasa, 05 Agustus 2014

Dampak Video Games pada anak dan Tips yang perlu diperhatikan orang tua

Ketika saya masih berada di sekolah dasar, saya masih kerap melihat pemandangan seperti foto dibawah. Bahkan saya sendiri masih sering turut serta dalam permainan-permainan tradisional seperti benteng, galasin, petak umpet, ompimpa hingga congklak. Namun kini di era digital, pemandangan seperti ini semakin langka. Kita akan menemukan anak usia dini hingga anak usia remaja sibuk dengan smartphone atau gadget yang mereka miliki, seakan-anak terhipnotis mereka tak pernah melepaskan alat tersebut dari pandangan mata mereka.
Apa saja yang perlu kita pahami tentang dampak dari video games pada anak dan perbedaannya dengan permainan offline? Foto diatas merupakan foto permainan 'cublak-cublak suweng', permainan ini cukup populer di tanah jawa. Fakta menarik yang tidak banyak diketahui oleh orang adalah bahwa permainan tersebut diciptakan oleh Sunan Giri, salah satu pendakwah Islam di jawa timur. Permainan cublak suweng bukan sekedar permainan 'mengisi waktu luang' saja, akan tetapi sebuah permainan dengan pesan moral dan efek sosial-psikologis yang baik. Mulai dari gerak sujud dalam permainan, hingga lirik lagu yang menyertai seperti 'sirpong dele kopong' mengisyarakat pesan dan pemahaman tentang sabar-ikhlas bagi anak-anak. Fenomena yang banyak dihadapi orang tua muda saat ini adalah sebuah tekanan untuk senantiasa memberikan aktivitas kepada anak-anak. Apabila anak memiliki waktu kosong-luang yang panjang, hal tersebut dimaknai sebagai sesuatu yang negatif. Hal ini terjadi karena tren zaman yang mendorong orang tua untuk saling berkompetisi dalam cara-gaya mendidik anak. Anak harus selalu menjadi cerdas dan unggul. Salah satunya adalah dengan memberikan gadget atau handphone pribadi kepada anak sebagai media 'pengisi waktu luang' Semisal kita bisa dapati video games 'Angry Bird' banyak diminati sebagai 'pengisi waktu luang' bagi anak. Bahkan dari sekedar 'pengisi waktu luang' kini 'Angry Bird' telah berevolusi menjadi sebuah franchise besar, dari mulai pakaian, accessories hingga kini theme park yang sedang dipersiapkan di Johor Malaysia. Jika dapat diintisarikan dalam kumpulan poin, berikut hal-hal yang perlu dicermati orang tua mengenai video games: 1. Games yang terdapat di handphone dan tablet dirancang sebagai games 'pengisi waktu luang', oleh sebab itu ia cenderung tidak memiliki sebuah 'target pendidikan' tertentu bagi penggunanya. Selayakan permainan tersebut tidak dijadikan permainan rutin bagi anak-anak. 2. Video games dan industri periklanan merupakan dua dunia yang saling berdekatan. Perlu diingat bahwa akan selalu ada pesan-pesan subliminal yang hendak disampaikan untuk keuntungan sebuah produk tertentu di dalam sebuah video games, karena pembuatan video games sendiri pada umumnya berorientasi komersil 3. Berbeda dengan permainan tradisional, video games tidak melibatkan komitmen tentang kapan permainan diakhiri. Oleh karena itu anak dapat bermainan dalam waktu yang sangat panjang secara berulang-ulang. Orang tua perlu mencermati hal ini dengan baik. 4. Perhatikan tema dan kesesuaian antara games dengan usia anak, saya sering dapati anak-anak bermainan 'shooting games' yang penuh dengan darah seperti 'counter strike', hindari hal tersebut. 5. Salah satu proses belajar anak adalah dengan role modeling dan imitasi, oleh karena itu perhatikan dengan baik konten dari video games baik dari segi kognisi maupun emosional. Jangan salahkan anak apabila ia menjadi temperamen sedangkan kita selalu menyuguhkan stimulus 'kemarahan' seperti dalam games 'angry birds' 6. Tidak semua games berdampak buruk, beberapa penelitian telah membuktikan bahwa video games dapat mengembangkan kemampuan refleks, kemampuan geospasial, bahasa dan problem based learning McLean, L., & Griffiths, M. D. (2013). See also: De Lisi, R., & Wolford, J. L., (2002). Improving children’s mental rotation accuracy with computer game playing. Journal of Genetic Psychology, 163, 272- 282.; Feng, J., Spence, L. & Pratt, J. (2007). Playing an action video game reduces gender differences in spatial cognition. Psychological Science, 18, 850-855.; Green, C.S. & Bavelier, D. (2003). Action video games modify visual selective attention. Nature, 423, 534- 537.; Green, C.S. & Bavelier, D. (2006).Eunumeration versus multiple object tracking: The case of action video game players. Cognition, 101, 217-245.]] - See more at: http://fulleryouthinstitute.org/blog/via-media-cheat-codes-a-quick-guide-to-teens-and-video-games#sthash.5TZpjejR.dpuf.
 Kuncinya adalah bagi orang tua untuk terlibat aktif dalam aturan penggunaan video games, pilihan video games, dan juga turut serta bermain bersama. Saran saya, bagaimanapun juga sebuah device elektronik tidak akan bisa menggantikan stimulus organik dari permainan tradisional-offline.Jadi perkayalah anak-anak kita dengan stimulus organik berupa permainan yang nyata!

 Penulis: Dr. Muhammad Faisal M.Si
Pengajar Psikologi Pendiri Youth Laboratory Indonesia
Biro riset-konsultan pertama di Indonesia yang meneliti tentang kultur-perilaku anak muda www.enterthelab.com

Kata Kunci: pemasaran , tren anak muda , riset anak muda , riset pemasaran , strategi pemasaran anak muda , jasa riset , jasa riset pemasaran , biro riset pemasaran , konsultan pemasaran , youth culture asia , youth culture report , youth data , youth indonesia , youth insights , youth marketing indonesia , youth marketing reports , youth research, youthlab , indonesian youth , data anak muda , penelitian tentang anak muda , hasil survei tentang anak muda , jasa penelitian , anak muda indonesia , perilaku anak muda , youth behavior , orang tua, studi anak muda

Selasa, 04 Februari 2014

Pemuda, Pemilih Pemula dan Pemilu 2014 (Data riset politik pemuda millenial Indonesia 2014)

Pemuda, Pemilih Pemula dan Pemilu 2014 (Data riset politik pemuda millenial Indonesia 2014) from Muhammad Faisal
Slide ini merupakan hasil penelusuran penulis di dunia riset kultur, sikap, opini dan perilaku pemuda millenial Indonesia sejak tahun 2008. Pahami bagaimana anak muda millenial Indonesia memahami dan menginterpretasi jagad politik nasional dan pentingnya peran mereka pada pemilu 2014

kata kunci: pemasaran, tren anak muda,riset anak muda, riset pemasaran, strategi pemasaran anak muda, jasa riset, jasa riset pemasaran, biro riset pemasaran, konsultan pemasaran, youth culture asia,youth culture report,youth data,youth indonesia,youth insights,youth marketing indonesia,youth marketing reports,youth research,youthlab, indonesian youth, data anak muda, penelitian tentang anak muda, hasil survei tentang anak muda, jasa penelitian, anak muda indonesia, studi anak muda, agensi pemasaran anak muda, isu anak muda

Posted via Blogaway

Minggu, 07 Juli 2013

Lokasi pacaran anak muda (Perilaku Seks Anak Muda)


Data diatas merupakan hasil baseline survey perilaku sex mahasiswa yang dilakukan oleh Pilar-PKBI
pada tahun 2000. Data ini telah berusia 13 tahun, namun saya meyakini berdasarkan berbagai riset Youth Culture yang telah saya lakukan data ini masih relevan untuk kita analisis untuk konteks saat ini. Berdasarkan data tersebut lokasi pacaran anak muda yang paling sering digunakan adalah rumah sendiri (43%). Hal ini sangat erat kaitannya dengan tuntutan ekonomi yang dialami oleh keluarga dari berbagai kelompok sosial-ekonomi saat ini . Dimana, kondisi tersebut "memaksa" kedua orang tua, baik Ayah maupun Ibu untuk bekerja. Karena kondisi tersebut para orang tua menjadi semakin jarang berinteraksi dengan anak-anaknya yang telah memasuki usia remaja/pubertas. Aktivitas di rumah-pun tidak "terjaga"/terawasi dengan baik oleh orang tua, sehingga dapat menjadi fasilitas yang pada akhirnya digunakan untuk perilaku menyimpang dari remaja.
Prevensi ternyata bermula dari lingkungan terdekat, yaitu rumah sendiri. Dengan memahami kondisi sebagaimana tertera pada chart diatas, para orang tua maupun pendidik perlu menciptakan keseimbangan antara kontrol dan kebebasan terhadap anak. Kebebasan waktu dan ruang pada remaja dapat mengarah kepada perilaku negatif jika tidak disertai dengan kontrol terhadap kegiatan-kegiatan mereka. Hal ini tidak serta merta bermakna bahwa kita harus membatasi perilaku anak secara ketat. Akan tetapi, anak perlu mendapatkan pengarahan dalam kegiatan mereka, jangan sampai terdapat celah waktu kosong dimana mereka luput dari sebuah kegiatan positif. Dalam berbagai riset yang telah dilakukan oleh Youth Laboratory Indonesia kami menemukan bahwa anak muda yang memiliki bakat juga tergabung dalam sebuah komunitas hobby lebih condong mengembangkan bakatnya dan 'passion'nya ketimbang menghabiskan waktu dalam pacaran. Dengan demikian, sekali lagi perlu dipahami bahwa proses perkembangan anak perlu sentuhan emosi juga perhatian/kontrol langsung dari lingkungan terdekat, yaitu orang tua dan pendidik. Jangan sampai ikhtiar para orang tua yang bekerja membanting tulang untuk anak-anak menjadi sia-sia ketika mendapati anak mereka tumbuh dalam kebiasaan perilaku yang negatif. Sebab jiwa anak muda tumbuh berkembang dengan nutrisi nilai bukan hanya dengan reward dan hadiah yang bersifat fisik.
kata kunci: pemasaran, tren anak muda,riset anak muda, riset pemasaran, strategi pemasaran anak muda, jasa riset, jasa riset pemasaran, biro riset pemasaran, konsultan pemasaran, youth culture asia,youth culture report,youth data,youth indonesia,youth insights,youth marketing indonesia,youth marketing reports,youth research,youthlab, indonesian youth, data anak muda, penelitian tentang anak muda, hasil survei tentang anak muda, jasa penelitian, anak muda indonesia, studi anak muda, agensi pemasaran anak muda, isu anak muda

Dr Muhammad Faisal M.Si
Peneliti Kultur dan Perilaku Anak Muda
Pendiri Youth Laboratory Indonesia

Kata Kunci: pemasaran , tren anak muda , riset anak muda , riset pemasaran , strategi pemasaran anak muda , jasa riset , jasa riset pemasaran , biro riset pemasaran , konsultan pemasaran , youth culture asia , youth culture report , youth data , youth indonesia , youth insights , youth marketing indonesia , youth marketing reports , youth research, youthlab , indonesian youth , data anak muda , penelitian tentang anak muda , hasil survei tentang anak muda , jasa penelitian , anak muda indonesia , perilaku anak muda , youth behavior , orang tua, studi anak muda

Posted via Blogaway

Minggu, 30 Juni 2013

Stress pada anak serta cara mengatasinya


Beberapa bulan lalu saya melakukan sebuah studi observasional terhadap anak muda sub-urban di daerah Surabaya. Kala itu, seorang 'gatekeeper' kami bernama Yudi menguide kami untuk duduk di sebuah tempat nongkrong ala ala Bandung. Sayapun mulai membuka 'sensor' riset saya, melihat kekanan dan kekiri, keatas juga kebawah. Satu 'scene' yang sangat menarik perhatian saya adalah adanya seorang siswa SMP yang sedang duduk sendirian, ia melihat layar televisi yang menggantung ditas langit-langit Cafe dengan tatapan kosong. Di tangan kanannya terdapat sebuah rokok yang menyala, di tangan kirinya sebuah kertas Ujian Nasional. Selama lebih dari satu jam saya memperhatikan anak tersebut hanya duduk diam dengan tatapan kosong, saya coba mengambil sudut pandang yang lebih dekat dengan pura-pura seliweran di depannya. 'Confirmed' dia hanya melamun dengan tatapan kosong bukan memperhatikan acara satwa yang saat itu sedang dipasang di layar televisi. Kiranya saya coba renungi dan pastikan bahwa kertas yang berada di tangan kirinyalah yang membuatnya begitu tertekan hingga melamun dan menghisap rokok dengan sangat khusyuk.
Hasil observasi tersebutpun pada akhirnya terkonfirmasi melalui beberapa data lain yang didapat oleh teman-teman dari Youth Laboratory Indonesia. Bertambah kuat dugaan atau hipotesis saya dengan terpublishnya hasil riset dari Collegedegreeresearch.net diatas. Ternyata sifat ABABIL  (ABG labil), Galau dari anak muda  tidak hanya dapat ditemukan pada anak muda nusantara. Akan tetapi hal ini merupakan sebuah fenomena global. Sumber utama stress mereka adalah terutama:
1. Akademik
2. Masa depan
Beberapa hal yang melatarbelakangi ketidakstabilan emosi juga rendahnya kemampuan coping emosi anak muda menurut analisis saya adalah:
1. Interaksi online yang lebih tinggi dibanding interaksi tatap muka langsung yang kaya akan pertukaran bahasa tubuh dan emosi
2. Tuntutan sosial yang lebih besar dengan adanya eksposure diri via social media
3. Semakin rendahnya quality time yang penuh dengan pertukaran emosi (curhat) antara orang tua dengan anak
4. Lifestyle zaman yang menuntut segala sesuatu serba instan dan cepat tanpa penekanan pada proses
5. Masuknya informasi yang terlalu banyak pada saat yang bersamaan ke dalam kognisi anak, hal ini didukung oleh adanya sumber informasi yang multichannel saat ini via conventional media begitu pula new media
Yang perlu dilakukan oleh orang tua dan pendidik adalah:
1. Mendukung keseimbangan diri pada anak dengan memfasilitasi lebih banyak interaksi konvensional melalui tatap muka dengan sesama mereka
2. Memastikan anak mendapat porsi waktu/quality time dengan orang tua, bukan sekedar beraktivitas bersama, namun terdapat pertukaran emosi positif didalamnya
3. Penanaman values dan kearifan lebih penting pada saat ini bagi anak dibandingkan dengan penanaman skills dan pengetahuan, hal ini karena anak dari generasi millenial lebih rentan terhadap coping stress yang membahayakan diri
kata kunci: pemasaran, tren anak muda,riset anak muda, riset pemasaran, strategi pemasaran anak muda, jasa riset, jasa riset pemasaran, biro riset pemasaran, konsultan pemasaran, youth culture asia,youth culture report,youth data,youth indonesia,youth insights,youth marketing indonesia,youth marketing reports,youth research,youthlab, indonesian youth, data anak muda, penelitian tentang anak muda, hasil survei tentang anak muda, jasa penelitian, anak muda indonesia, studi anak muda, agensi pemasaran anak muda, isu anak muda

Dr.Muhammad Faisal M.Si
Peneliti Kultur dan Perilaku Anak Muda
Youth Laboratory Indonesia

Kata Kunci: pemasaran , tren anak muda , riset anak muda , riset pemasaran , strategi pemasaran anak muda , jasa riset , jasa riset pemasaran , biro riset pemasaran , konsultan pemasaran , youth culture asia , youth culture report , youth data , youth indonesia , youth insights , youth marketing indonesia , youth marketing reports , youth research, youthlab , indonesian youth , data anak muda , penelitian tentang anak muda , hasil survei tentang anak muda , jasa penelitian , anak muda indonesia , perilaku anak muda , youth behavior , orang tua, studi anak muda

Posted via Blogaway

Minggu, 09 Juni 2013

Apa saja yang dilakukan Anak Muda di dunia Maya?


Chart diatas merupakan data analisis dari Kapersky Lab selama periode 2013 terhadap perilaku online anak muda di 7 Negara (Amerika Serikat, Inggris, Saudi Arabia, Jepang, Jerman, Brazil dan Rusia). Data yang sangat informatif tersebut diambil berdasar aplikasi pemantau  dan kontrol kegiatan maya anak muda yang disediakan oleh perusahaan piranti antivirus ternama; Kapersky.
Beberapa kesimpulan yang dapat kita ambil dari hasil data tersebut adalah;
1. Kunjungan ke website pornografi (16,8 persen) walau masih berada di bawah kunjungan ke media sosial (31,3 persen), masih merupakan destinasi utama kaum muda
2. (16,7 persen) dari aktivitas anak muda berada pada ranah transaksi online, sebuah indikasi besarnya 'trust'/kepercayaan anak muda terhadap dunia maya
3. (8,1 persen) memilih untuk aktif di 'forum dan chat'
Berdasarkan beberapa data tersebut, intervensi lebih lanjut yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah:
1. Tidak hanya membatasi diri pada pemantauan transaksi offline anak-anak akan tetapi juga senantiasa memantau apa saja yang mereka belanjakan di dunia maya, melalui medium pembayaran apa dan dengan siapa. Sebab, penipuan dalam dunia Maya kerap terjadi. Klausul transaksi yang disediakan di dunia maya juga sering kali terlalu rumit-abstrak bagi kemampuan kognitif anak muda.
2. Dengan semakin banyak beredarnya konten bermuatan seks baik itu lewat media cetak, online, visual maupun audio musik, anak muda semakin merasakan tingginya kebutuhan akan informasi yang terkait dengan pengetahuan seks. Sebab, rendahnya pemahaman tentang seks bagi anak muda akan mengakibatkan cemoohan/social punishment dari kalangan teman peergroup. Hal ini yang salah satunya mendorong anak semakin intens untuk mengkonsumsi media pornografi di dunia Maya. Di sini orang tua dan kalangan pendidik perlu memberikan alternatif media informasi yang 'youthful' tentang pendidikan seks.
3. Kegiatan sosial anak semakin terbawa oleh arus maya. Hal ini perlu disiasati, sebab kecerdasan bersosialisasi secara offline sangat berbeda dengan kecerdasan sosial di dunia Maya. Anak perlu diberi lebih banyak 'provokasi' untuk terlibat dalam berbagai kegiatan offline dengan teman sebaya. Hal ini akan mengembangkan kecerdasan emosi-afektif anak yang lebih baik, terutama dalam berinteraksi secara kelompok (inter/intragroup) maupun interpersonal.
kata kunci: pemasaran, tren anak muda,riset anak muda, riset pemasaran, strategi pemasaran anak muda, jasa riset, jasa riset pemasaran, biro riset pemasaran, konsultan pemasaran, youth culture asia,youth culture report,youth data,youth indonesia,youth insights,youth marketing indonesia,youth marketing reports,youth research,youthlab, indonesian youth, data anak muda, penelitian tentang anak muda, hasil survei tentang anak muda, jasa penelitian, anak muda indonesia, studi anak muda, agensi pemasaran anak muda, isu anak muda

Dr Muhammad Faisal M.Si
Peneliti Kultur dan Perilaku Anak Muda
Youth Laboratory Indonesia

Kata Kunci: pemasaran , tren anak muda , riset anak muda , riset pemasaran , strategi pemasaran anak muda , jasa riset , jasa riset pemasaran , biro riset pemasaran , konsultan pemasaran , youth culture asia , youth culture report , youth data , youth indonesia , youth insights , youth marketing indonesia , youth marketing reports , youth research, youthlab , indonesian youth , data anak muda , penelitian tentang anak muda , hasil survei tentang anak muda , jasa penelitian , anak muda indonesia , perilaku anak muda , youth behavior , orang tua, studi anak muda

Posted via Blogaway

Senin, 27 Mei 2013

Persepsi anak muda tentang 'Hamil di luar Nikah' (dilihat dari Third Person Effect)


Chart 1

Chart 2
Dua chart berikut merupakan hasil salah satu survey online dari Youth Laboratory Indonesian yang dilakukan pada akhir tahun 2012. Kedua pertanyaan tersebut saya masukkan ke dalam survey untuk mencoba melihat kehadiran "third person effect" (TPE). TPE merupakan sebuah gejala dimana seseorang selalu melihat dari sudut pandang orang ketiga. Secara lebih spesifik, sesuatu yang dinilai negatif secara norma akan dipersepsi mustahil terjadi pada diri sedangkan sesuatu yang positif lebih besar kemungkinan terjadi pada diri.
Dengan kata lain, penilaian terhadap diri sendiri menjadi tidak obyektif dan riil. Kedua pertanyaan tersebut saya pisah posisinya dalam survey yang kami sebar. Secara mengejutkan kami menemukan bahwa pada kalangan muda, mereka memiliki TPE yang tinggi terkait dengan isu 'Hamil di luar nikah'. Anak muda melihat peristiwa 'Hamil di luar nikah' sebagai sesuatu yang mustahil terjadi pada diri mereka sedangkan di sisi lain mereka melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang sangat mungkin terjadi pada anak muda Indonesia secara umum (bisa dilihat dari perbandingan chart 1 dan 2).
Beberapa implikasi dari hasil temuan ini bagai kalangan pendidik dan orang tua adalah:
1. Anak muda sudah melihat fenomena 'Hamil di luar nikah' sebagai sesuatu yang lumrah terjadi pada anak muda di Indonesia. Perlu adanya sebuah inisiatif kampanye secara regional dan nasional untuk mengubah mindset anak muda bahwa kedepan hal tersebut tidak akan terjadi lagi bagi generasi muda. Karena, Norma subyektif (Subjective Norms) dapat mendorong perilaku anak muda ke arah tertentu sesuai dengan kencenderungan norma orang banyak.
2. Anak muda lebih rentan terhadap perilaku konformitas (mengikuti perilaku kelompok banyak) yang dipicu oleh peer group dibanding kelompok usia lainnya, ini karena dorongan untuk social acceptance (penerimaan sosial)anak muda lebih besar. Dengan demikian, di lingkungan keluarga diperlukan adanya sebuah suasana kondusif dimana anak dapat berbagi berbagai cerita tanpa batasan, sehingga dorongan social acceptance tidak mengarah ke perilaku yang tidak diinginkan.
3. Anak muda melihat fenomena 'Hamil di luar nikah' sebagai sesuatu yang jauh jaraknya dari mereka sedang realitanya sangat dekat, perlu adanya penguatan pesan bagi anak muda bahwa hal itu sangat mungkin terjadi jika mereka tidak secara AKTIF membatasi diri ketika menjalin sebuah hubungan dengan lawan jenis. Peran workshop, talkshow dan seminar di level sekolah sangat penting disini.
kata kunci: pemasaran, tren anak muda,riset anak muda, riset pemasaran, strategi pemasaran anak muda, jasa riset, jasa riset pemasaran, biro riset pemasaran, konsultan pemasaran, youth culture asia,youth culture report,youth data,youth indonesia,youth insights,youth marketing indonesia,youth marketing reports,youth research,youthlab, indonesian youth, data anak muda, penelitian tentang anak muda, hasil survei tentang anak muda, jasa penelitian, anak muda indonesia, studi anak muda, agensi pemasaran anak muda, isu anak muda

Dr Muhammad Faisal M.Si
Peneliti Kultur dan Perilaku Anak Muda
Youth Laboratory Indonesia
www.enterthelab.com

Kata Kunci: pemasaran , tren anak muda , riset anak muda , riset pemasaran , strategi pemasaran anak muda , jasa riset , jasa riset pemasaran , biro riset pemasaran , konsultan pemasaran , youth culture asia , youth culture report , youth data , youth indonesia , youth insights , youth marketing indonesia , youth marketing reports , youth research, youthlab , indonesian youth , data anak muda , penelitian tentang anak muda , hasil survei tentang anak muda , jasa penelitian , anak muda indonesia , perilaku anak muda , youth behavior , orang tua, studi anak muda

Posted via Blogaway